Selasa, 27 September 2016

PENYELAMAT PERADABAN DIGITAL DI DESA TERTINGGAL



PENYELAMAT PERADABAN DIGITAL DI DESA TERTINGGAL

Sementara waktu tinggalkan sejenak bayangan kalian para pembaca yang sudah melek teknologi digital, tentang keterhubungan kata “digital” dengan kemajuan teknologi maupun tersedianya akses internet 24 jam nonstop. Buang jauh-jauh terlebih dahulu tentang segala bahasan kemodernan yang selama ini sudah kalian nikmati dengan mudah. Melalui tulisan ini aku ingin menceritakan kisah perjuangan berinteraksi dengan kedigitalan dan asisten digital terbaik yang pernah kugunakan. Izinkan aku membawa pikiran kalian sejenak ke sebuah daerah terpencil di sudut Indonesia. Hanya satu daerah, belum yang lain... karena ini berdasarkan sebuah pengalaman pribadiku dan mungkin bisa dijadikan motivasi para pembaca terutama generasi muda untuk lebih memajukan dan memeratakan kemajuan bangsa Indonesia pada bidang teknologi digital di masa depan.
Bawalah angan kalian menuju tiga tahun silam, ketika aku masih tinggal di Desa Nggalak Kecamatan Reok Barat Kabupaten Manggarai Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sebuah desa di Pulau Flores yang masih tergolong 3T (terdepan, terluar, tertinggal). Di sana aku ditugaskan sebagai guru SM-3T (Sarjana Mendidik di daerah Terdepan Terluar Tertinggal) di SD Inpres Nggalak selama satu tahun. Aku yang dilahirkan dan dibesarkan di Kabupaten Malang Jawa Timur, sudah terbiasa dengan peralatan-peralatan modern di rumah, tiba-tiba harus tinggal di sebuah desa yang bahkan PLN dan PDAM pun belum menjangkaunya. Iya, listrik yang ada hanya dari tenaga surya dan mesin diesel. Jadi kalau bahan bakar dieselnya habis, listrik juga padam. Langkah yang ditempuh untuk menghemat bahan bakar yaitu dengan cara menyalakan listrik saat pukul 18.00 WITA sampai dengan pukul 22.00 WITA. Sesudah itu hening lagi, hanya suara-suara alam semisal katak, lolongan anjing warga, dan jangkrik yang bisa didengarkan. Lagi pula tidak setiap rumah memiliki aliran listrik, hanya para stakeholder di desa yang memiliki mesin diesel. Beruntung, dengan baik hatinya mereka menyalurkan listrik ke beberapa rumah warga dengan syarat membayar iuran bulanan seperti yang telah disepakati. Kondisi ini masih berlangsung hingga detik ini, terbukti sampai sekarang aku masih belum bebas menghubungi mereka melalui kecanggihan alat telekomunikasi untuk sekedar saling mengabarkan.
Kebutuhan dasar seperti listrik saja sudah sedemikian langka, maka jangan bayangkan peralatan-peralatan elektronik seperti yang sudah kita kenal baik dalam kehidupan sehari-hari akan menghiasi setiap rumah di Desa Nggalak. Ada lampu penerangan saja sudah bagus, jangan lagi bayangkan televisi, ricecooker, smartphone terbaru, ataupun gadget canggih. Hanya rumah yang dilengkapi mesin diesel saja yang memiliki TV. Begitu pula dengan smartphone maupun laptop/notebook, hanya mereka yang sering mobilitas keluar masuk desa saja dan sudah mahir menggunakannya lah yang memiliki. Karena untuk terhubung ke jaringan telepon harus pergi ke atas bukit, berjalan ke depan puskesmas pembantu desa, atau pergi ke bawah pohon beringin rindang yang terletak di lapangan desa.

Pohon beringin tempat mengakses jaringan Telkomsel

Lalu, tak semua penyedia layanan jasa telekomunikasi bisa diakses jaringannya dari sana. Hanya Telkomsel-lah, satu-satunya kartu SIM yang dapat digunakan untuk berkomunikasi. Hal ini sungguh berkesan bagiku, kusampaikan banyak terimakasih. Aku benar-benar bersyukur, di saat jauh dari sanak famili, masih ada jaringan yang bisa diakses melalui genggaman teleponku sehingga aku bisa memberi kabar kepada mereka yang kutinggalkan di Pulau Jawa.
Berada di sekolah saat ini, pasti sedikit banyak bersentuhan dengan namanya alat-alat digital. Sebab untuk mengakses berbagai aplikasi yang diluncurkan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dibutuhkan sambungan jaringan internet untuk sinkronisasi data ini itu. Lagi-lagi jangan bilang kalau tinggal memasang indischool melalui PT Telkom. Aku ingatkan, di sini belum dijamah PLN.
Keadaan ini mengharuskanku untuk pulang pergi dari desa ke rumah yang disewa bersama teman-teman seperjuangan. Rumah ini terletak di pusat kecamatan Reok. Tidak mungkin kan bagiku waktu itu, seorang gadis mencari jaringan demi mengakses internet di bawah pohon beringin besar (ini lokasi terdekat), sendirian menggunakan laptop, selama beberapa jam sampai baterainya habis dan menunggu lagi malam hari untuk mengisi ulang baterai. Lalu kembali lagi ke bawah pohon, demikian berulang kali. Bisa-bisa aku dijuluki penunggu pohon oleh orang yang lewat. Bagus kalau keadaan tenang, kalau anjing warga juga ikut menemani, bagaimana caraku berkonsentrasi? Jika ada yang bertanya, mengapa aku yang mengurusi ini semua? Karena guru-guru lain belum memahami penggunaan PC dan laptop sepenuhnya, mereka masih belajar dari awal.

 Guru-guru belajar menggunakan laptop

Menuju ke pusat kecamatan tentu tidak semudah di kota-kota besar yang tinggal online menggunakan aplikasi smartphone langsung dapat kendaraan ojek maupun taksi, menuju jalan raya untuk menghadang angkutan umum yang lewat, atau menunggu bus di halte dengan duduk nyaman sambil memegang ponsel. Sekali lagi, jauhkan dulu kemudahan-kemudahan semacam itu. Kita sedang membicarakan angkutan dari desa terpencil menuju ke kota. Satu-satunya kendaraan umum yang ada hanyalah sebuah oto/truk yang sekali saja jalan pulang pergi dalam sehari. Itupun tidak setiap hari ada, terlebih lagi jika musim hujan tiba.


Gambar oto Karya Bunga

Selama empat jam perjalanan waktu yang harus ditempuh untuk berangkat ke kecamatan. Ini bukan perjalanan yang mulus dengan aspal yang bagus. Mirip soundtrack film kartun masa kecilku,”Mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudera.” Iya, dari Desa Nggalak yang wilayahnya yang berbukit-bukit, menuju Kecamatan Reok yang merupakan tempat pelabuhan di pesisir pantai. Ditambah lagi kondisi jalan dengan lubang aspal di sana sini mengharuskan sopir untuk ekstra hati-hati dalam mengemudi. Sungguh beruntung jika oto hanya berpenumpang manusia, tapi kalau kebetulan ada babi atau hasil alam yang ikut diangkut karena akan dijual di pasar, penumpang harap bersabar dengan kondisi di bak oto yang sedemikian rupa.
Begitulah sekelumit perjuangan demi membantu mengerjakan aplikasi sekolah yang seharusnya dikerjakan oleh operator sekolah dan demi mendapatkan akses internet yang lancar jaya dengan tempat yang nyaman. Namun pada akhirnya perjuanganku itu sia-sia, karena uang tunjangan daerah terpencil untuk guru-guru tidak bisa cair. Mereka menginterogasi aku yang tidak lengkap dalam mengisi data jam mengajar di aplikasi sekolah itu. Aku sendiri tak mengerti, apakah benar karena human error atau karena hal lain. Sedih bercampur kecewa, mau marah juga kepada siapa. Satu hal yang kupahami yaitu sebagai pelajaran yang amat berharga. 
Lama aku ingin menuliskan cerita ini dan kini tiba saatnya peluang itu ada. Sebagai ungkapan rasa terima kasihku kepada PT Telkom khususnya pihak Telkomsel yang terus membenahi pelayanannya dan memperluas jaringannya sehingga dapat diakses sampai ke pelosok negeri. Kabar terakhir yang kudapat, Telkomsel telah mengoperasikan 627 Base Transceiver Station (BTS) yang berlokasi di perbatasan Singapura, Malaysia, Vietnam, Timor Leste, Australia, Filipina, dan Papua Nugini. Senang sekali kudengar kabar bahwa Telkomsel menyediakan layanan broadband secara merata, sehingga masyarakat di wilayah perbatasan dapat menikmati internet dengan kualitas yang setara dengan di kota besar. Ini juga akan mempermudah kawan-kawan yang bertugas di daerah terdepan dan terluar untuk menjalankan tugasnya. Aku juga membaca berita kalau target selanjutnya, Telkomsel berupaya memperluas jangkauan jaringan di wilayah Kepulauan Anambas dan Kepulauan Natuna yang berbatasan langsung dengan Laut Cina Selatan.
Sungguh mengetahui itu semua membesarkan harapanku agar #IndonesiaMakinDigital. Semoga dengan semakin majunya era digital dan sistem digital yang ada, Telkomsel benar-benar mau dan mampu terus memperluas jaringannya demi terwujudnya kemajuan Bangsa Indonesia. Juga untuk mengejar ketertinggalan teknologi digital di beberapa wilayah nusantara sebagai jalan menuju percepatan pembangunan Sumber Daya Manusia melalui pendidikan di daerah-daerah tertinggal.

Jangan kalian pandang kami sebelah mata
Karena kepungan ketradisionalan
Jangan kalian anggap remeh kami
Karena jauh dari kemodernan dunia
 Jangan kalian sisihkan kami
Dari kecanggihan peralatan berteknologi digital
Tapi 
Ajarkan kami akan pesatnya ilmu pengetahuan
Agar kelak kami juga melek teknologi digital